Pages

Translate

Sabtu, 31 Januari 2015

Bioenergetika Biokimia

BAB I

PENDAHULUAN
Energi merupakan materi yang sangat melimpah di alam yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan tetapi dapat diubah bentuk dan kegunaannya. Di dalam ilmu sains, energi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Biologis, Fisika dan Kimia.
Dalam ilmu Biokimia, bioenergetika menjadi salah satu pengetahuan yang wajib dipelajari. Bioenergetika juga dapat disebut thermodinamika yaitu perubahan energi dengan melibatkan reaksi kimia. Mulai dari SD sampai duduk di bangku kuliah, bioenergetika wajib dipelajari namun berbeda tingkat kesulitannya pada tiap jenjang pendidikan. Bioenergetika atau thermodinamika merupakan bagian dari ilmu biokimia yang mempelajari tentang transformasi (perpindahan) dan penggunaan energi.
Aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu melibatkan proses metabolisme. Metabolisme menjadi bagian yang sangat penting pula dalam kehidupan. Dengan bantuan energi melalui berbagai macam reaksi kimia akan menghasilkan proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh.
Metabolisme adalah transformasi energi dengan menggunakan reaksi kimia. Metabolisme juga dapat diartikan sebagai semua reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Metabolisme dibagi menjadi 2 macam yaitu Katabolisme dan Anabolisme. Katabolisme merupakan reaksi pemecahan senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi menjadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah. Sedangkan Anabolisme merupakan peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi senyawa yang lebih kompleks.
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005).
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Bioenergetika
Bioenergetika atau termodinamika biokimia adalah ilmu pengetahuan mengenai perubahan energi yang menyertai reaksi biokimia. Reaksi ini diikuti oleh pelepasan energi selama sistem reaksi bergerak dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yanng lebih rendah. Sebagian besar energi dilepaskan dalam bentuk panas. Pada sistem nonbiologik dapat menggunakan energi panas untuk melangsungkan kerjanya dan dapat diubah menjadi energi mekanik atau energi listrik. Sedangkan pada sistem biologik bersifat isotermik dan menggunakan energi kimia untuk memberikan tenaga bagi proses kehidupan.
 
B.     Energi Bebas dan Kesetimbangan
Energi bebas adalah jumlah maksimum energi yang dibebaskan pada suatu proses yang terjadi pada suhu tetap dan tekanan bebas. Energi bebas dilambangkan dengan ∆G. Sedangkan, kesetimbangan adalah dua reaksi yang terjadi pada kecepatan yang sama dan tidak ada lagi perubahan konsentrasi.
Perubahan Energi Bebas ∆G menunjukkan energi maksimum yang tersedia untuk melakukan kerja. Dalam hal ini, berguna bila sistem berubah dari suatu keadaan menjadi suatu keadaan lain. Selama proses berlangsung, kemampuan kerja yang diukur dengan ∆G ini makin berkurang, lama kelamaan menjadi nol (∆G=0), yaitu pada kondisi kesetimbangan. Pada kondisi kesetimbangan ini tidak bisa melakukan kerja.
 
1.      ∆Go < 0, reaksi berlangsung spontan dan berlanjut pada keadaan setimbang.
2.      ∆Go = 0, reaksi pada kesetimbangan dinamik.
3.      ∆Go > 0, reaksi spontan berlangsung pada arah yang berlawanan.
 
C.    Reaksi Eksergonik dan Reaksi Endergonik
Reaksi yang dapat berlangsung selalu menghasilkan energi bebas dan dinamakan reaksi eksergonik. Reaksi yang memerlukan energi bebas adalah reaksi endergonik, reaksi seperti ini tidak dapat berdiri sendiri. Reaksi-reaksi biologik biasanya merupakan gabungan reaksi eksergonik yang menghasilkan banyak energi bebas dengan reaksi endergonik yang memerlukan energi bebas. Tidak seluruh energi bebas reaksi eksergonik digunakan oleh reaksi endergonik, sebagian akan dilepaskan agar reaksi total masih bersifat eksergonik sehingga dapat tetap berlangsung.
a.       Eksergonik (menghasilkan energi)
·         Oksidasi bahan bakar (karbohidrat, lemak, dan protein)
·         Fotosisntesis
·         Peragian
b.      Endergonik (membutuhkan energi)
·         Gerakan-gerakan mekanik
·         Sintesis bahan sel
·         Pembentukan gradien konsentrasi
·         Penyimpanan bahan bakar
 
D.    Kaidah Termodinamika Biologi
1.      Kaidah pertama termodinamika
Kaidah pertama ini merupakan hukum penyimpanan energi, yang berbunyi: energi total sebuah sistem, termasuk energi sekitarnya adalah konstan. Ini berarti bahwa saat terjadi perubahan di dalam sistem tidak ada energi yang hilang atau diperoleh. Namun energi dapat dialihkan antar bagian sistem atau dapat diubah menjadi energi bentuk lain. Contohnya energi kimia dapat diubah menjadi energi listrik, panas, mekanik dan sebagainya.
2.      Kaidah kedua termodinamika
Kaidah kedua berbunyi: entropi total sebuah sistem harus meningkat bila proses ingin berlangsung spontan. Entropi adalah derajat ketidakteraturan atau keteracakan sistem. Entropi akan mencapai taraf maksimal di dalam sistem seiring sistem mendekati keadaan seimbang yang sejati. Dalam kondisi suhu dan tekanan konstan, hubungan antara perubahan energi bebas (ΔG) pada sebuah sistem yang bereaksi, dengan perubahan entropi  (ΔS), diungkapkan dalam persamaan:
ΔG = ΔH – TΔS
Keterangan: ΔH adalah perubahan entalpi (panas) dan T adalah suhu absolut.

BAB III
PENUTUP
            Biokimia merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Energi sangat diperlukan oleh setiap makhluk hidup. Metabolisme merupakan transformasi energi dengan menggunakan reaksi kimia. Metabolisme juga dapat diartikan sebagai semua reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Metabolisme dibagi menjadi 2 macam yaitu Katabolisme dan Anabolisme.
Katabolisme merupakan reaksi pemecahan senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi menjadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah. Sedangkan Anabolisme merupakan peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi senyawa yang lebih kompleks.
Reaksi yang dapat berlangsung selalu menghasilkan energi bebas dan dinamakan reaksi eksergonik. Reaksi yang memerlukan energi bebas adalah reaksi endergonik, reaksi seperti ini tidak dapat berdiri sendiri.
Kaidah pertama ini merupakan hukum penyimpanan energi, yang berbunyi bahwa energi total sebuah sistem, termasuk energi sekitarnya adalah konstan. Kaidah kedua berbunyi bahwa entropi total sebuah sistem harus meningkat bila proses ingin berlangsung spontan.
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Mardiani, T. H. 2004. Bioenergetika Dan Fosforilasi Oksidatif. Nasional. Vol.4(1):1-9
McGilvery, R.W., Goldstein, G.W. 1980. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional Edisi
Ketiga. Airlangga University Press:Surabaya.
Schmitt, M., Siegwolf, R., Ekblad, A., et al. 2012. Effect of assimilate Supply on Root and Microbial Components of Soil Respiration in a Mountain Grassland. Geophysical Research Abstracts. Vol 14 (1) : 1-5.
Thenawijaya, M. 2006. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta:Erlangga.
Tobin, A.J. 2005. Asking About Life. Canada:Thomson Brooks/Cole.
 

Kamis, 29 Januari 2015

Bertemu Syauqul Habib.. :D

Assalamualaikumm akhi wa ukhty yang di rahmati Allah…

Saya mau cerita nih untuk temen2 pecinta sholawat al banjari.. buat kalian penggemar banjari pasti sudah tidak asing lagi kan dengan jamiyah Syauqul Habib dari Wonocolo, Surabaya. Jadi ceritanya gini nih akhi wa ukhty..


Bulan desember lalu, tepatnya tanggal 25-27 Desember tahun 2014 diadakan Jamiyatul Qurra’ Wal Huffaz di Situbondo, Jawa Timur. Ini adalah ajang yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali di jawa timur, biasanya acara ini dikenal sebagai MTQ Jamqur, selain MTQ LPTQ. Aku jadi perwakilan kota probolinggo untuk mengikuti cabang musabaqoh tilawatil Qur’an tingkat remaja.


Nahh… singkat cerita, pada malam pembukaan musabaqoh, aku gak sengaja keliatan wajah yang gak asing buatku, setelah diteliti lagi ternyata itu adalah Mahrus Ali dan Nada, Vokalis Syauqul Habib. Sungguh aku senang sekali waktu itu, apalagi itu pertama kalinya buatku bertemu dengan Personil syauqul habib.


Aku pun bingung mencari kamera yang bagus, karena hapeku sendiri hape jelek yang kualitas gambarnya buram, hehee… jadi aku pinjem smartphone milik temenku lalu aku kejar Mahrus Ali dan Nada, gak ngejar sih, Cuma aku yang nyamperin sih.. hahaa… Alay banget sampek ngejar ngejar, haha… nah setelah ketemu, aku pun langsung minta foto dengan beliau, waduuhh… sumpah seneng rasanya, buat penggemar syauqul habib yang belum sempat bertemu, Insyaallah secepatnya pasti.. buat yang udah pernah bertemu, yah selamat.. hahaa…Tetapi yang lebih penting dari pengalamanku ini adalah, “Jangan Pernah Berhenti Bersholawat kepada Nabi Muhammad”. Cintailah terus kesenian kita, yaitu Banjari.Allahumma Sholli Ala Muhammaaad…!!!










Ini Nih Foto2nya akhi.. hahaaaa… :D


 



kalo kalian tanya gimana rasanya ospek...

Assalamualaikum akhi wa ukhty.. Hujan nih.. ngopi pasti enak, tapi gak ada kopi, mau keluar kost males.. huaahaa.. oya teman, aku mau bagi pengalaman ku tentang gmana rasanya ospek nih, hayo yang bakalan jadi mahasiswa simak baik2 yee… jgn lupa siapin tisu juga ya, haha nggak lah ya becanda kok..Jadi gini guys, tenang aja, gak jauh beda kok sama MOS yang udah kita rasakan pas SMA, Cuma sedikit lebih serem lah, nggak serem sih, eh nggak deh, percaya deh sama gue biasa aja sih.. ospek serem itu hanyalah mitos kok, hahaa… nah ospek itu umumnya ada 2 guys, ada ospek universitas dan ospek fakultas, tapi di beberapa fakultas yang terdiri bnyak jurusan dan prodi bahkan ada juga ospek jurusan dan ospek prodi.. dan ospek ini biasanya berjalan selama hampir satu semester pertama kita kuliah.. jadi ya terkekang banget lah ya.. kita juga pasti jarang pulang kampung deh gara2 tiap sabtu-minggu ada ospek..Untuk ospek universitasnya, siap2 aja ya buat yang pengen kuliah di UB.. buanyak bgt tugasnya. Kita disuruh buat:Peta UB, Life Mapping, menghafal lagu2 ospek, Mars Brawijaya dan Hymne Brawijaya dll. Yang penasaran tugasnya, ayo kuliah di UB, kami tunggu.. :D perlangkapan ini kami bawa pada hari pertama ospek, yaitu ospek universitas.Terus Kalo ditanya pengalaman ospek ku dulu, nah aku kan dari fakultas peternakan, jadi dulu aku ospek fakultasnya disuruh buat:1.      Topi koboy dari kertas karton dan dilapisi warna cokelat. Di depan dikasih foto 4x6, NIM dan nama grup. Grupku dulu namanya Ongole (sejenis sapi).2.      Tas yang di buat dari selembar kain warna putih, trus di kasih tulisan “CATTLE 2014”, jadi semaleman tuh gua ngejahit sendiri, habis itu gue nyerah dan pelarianku ke tukang jahit, hahhaaa…3.      Dll nya dah, kayaknya bosen kalo disebutin satu2.. hahaaa…Semua perlengkapan itu kami bawa di ospek fakultas, kami berangkat jam 5. Sumpah, Kota Malang dinginn bgt kalo waktu pagi buta.. rasanya mandi enggan bgt deh, sumpah.. apalagi aku kurus, kurang lemak, jadi hawa dingin mudah masuk, hahaa apaan? Nah jam stengah 4 subuh, sholat subuh dulu lalu berangkat ke kampus, gak boleh telat dikit walaupun satu menit GAK boleh.. kalo telat.. “Hei Yang TELAATTT

Rabu, 28 Januari 2015

PERJUANGAN MERAIH BANGKU KULIAH.. :)



Saatnya libur semester.. yeah, Alhamdulillah sudah 6 bulan  aku kuliah, banyak bgt tugasnya sumpah. Ngga nyangka bakal sebanyak ini tugasnyee.. blum ngeprint, blum ngeWAR…net, ngeWAR maksudnyee, hehe gamers pasti tau..(apasih) (galucu tau). ooh iya, aku punya cerita nih, daripada blog ku kosong mlompong isinya, mending aku coretin aja.. ya nggak guys.. J
Bismillah.. Lanjut, jadi gini nih guys, mumpung lagi musim2 pendaftarn mahasiswa baru yang ribet bgt tuh jalur masuknyee (#true) jadi gue mau crita tentang dulu awal aku memperebutkan satu kursi PTn yang rumit bgt tuh ngedapetinnya.. awalnya waktu pas hari kelulusan alias wisuda siswa SMAN3 Probolinggo tepatnya tanggal 26 mei 2014, itu sehari sebelum pengumuman SNMPTN tuh.. jadi aku sama temen2 ya enjoy aja sih, menikmati jalannya wisuda, apalagi waktu itu aku dapat juara 1 di kelas plus siswa dengan kontribusi terbanyak atau apalah gitu namanya, kayak sering nyumbang prestasi di sekolah gitu.. wwihhh keereeen, hahaa.. jadi diakhir acara namaku dipanggil 2 kali tuh sama nama ortuku juga oleh si pembawa acara, sumpah seneng bgt deh buat ortu bangga.. semoga aku bisa menaikhajikan ortuku amiiiiinn…  trus gara2 itu juga aku dimintai banyak foto sama temen2ku, hahaa yah walupun gak terlalu ganteng lah.. eh ganteng lah rekkk hahaa..
Eh crita ini penting ga sih?? Lanjut aja ya.. anggap aja crita wisuda itu udah selesai yee, hahaa lupakan.. nah keesokan harinya itu hari pengumuman SNMPTN, yang ditunggu oleh 170rb lebih calon mahasiswa seluruh Indonesia.. ooh betapa dag dig dug serr nya hari itu.. tanggal 27 mei 2014. Naah ini nih, kalian tau gak guys apa pilihan prodiku waktu itu? Ini nih urutannya..
1.Matematika – ITS
2. Teknik Fisika – ITS
3. Fisika – UM
“Wiih keren bgt kak pilihannya… “ itu kata adek kelas ku dulu, keren sih tapi belum tentu lolos juga kan.. jadi buat adek2 yang mau daftar ya, jdi jgn milih jurusan yg macem2, disesuaikan sama minat dan kemampuan aja oke.. trus dulu juga waktu SNMPTN aku juga nyertain piagam Juara 1 Tilawatil Quran se jatim lho, eh ga nyambung bgt sama pilihan prodinya, emang iya masalah buat ente? Hahaa….. tapi ternyata denger2 piagam yang tdk sesuai prodi itu mengurangi penilaian lho, makanya hati2…  eh iya, aku juga calon mahasiswa bidikmisi, jadi kalo ga ada beasiswa ini aku gak akan bisa kuliah, hiks.. :D (bener)
Hari pengumuman pun tiba, jam 12 siang akan diumumkan hasil SNMPTN, Lolos atau tidak. Jadi mulai jam 10 aku udah standby tuh di warnet.. nunggu sampe jam 12..sambil fban aku dan ngegame aku tunggu tuh pengumuman.. sampe jam 12 aku buka laman snmptn.ac.id trus aku masukkan no peserta dan tanggal lahir tekan enter, ternyata errroor.. ah.. kucoba lagi, errroor lg, duh kalo ingat waktu itu, rasanya gamau ngulangin lagi deh tanganku dingin bgt, truus di coba lagi akhirrnyaaa.. jreng jreng… WARNA MERAH yang artinya..
Maaf, Anda dinyatakan tidak lolos dalam seleksi SNMPTN
Jujur, ekspresiku biasa aaja setelah liat tulisan merah itu, batinku masih ada SBMPTN, semangat.. hahaa.. tapi reaksi nya tuh yang gak nguatin.. kecewa breeew, sedih, puengen nangis dll dah.. trus di warnet itu aku Cuma diem dah.. trus ada sms masuk, “gmana rek? Lolos?” nggak aku bls sms nya, aku lg sedih bgt waktu itu… setelah itu mulai bnyak sms berdatangan, aku sih browsing2 ga jelas di warnet.. ternyata temen2ku bnyak yg lolos tuh… aduh berarti Cuma aku dong yg ga lolos?.. trus aku ketemu temenku di warnet yg sama mau ngecek snmptn juga… ternyata dia juga ga lolos.. aku lumayan lega dia juga ga lolos, eh bukan maksud senang diatas penderitaan orang loh, tapi lega karena ada satu temen yg juga ga lolos.. hehee…
Trus aku pulang dri warnet itu, eh sandalku hilang juga, ya aku digantiin sama yg punya warnet walaupun sandalnya jelek ga sebanding sama punyaku yg hilang itu, hahaa… di jalan aku mikir, mungkin aku kurang berdoa, usahaku kurang dr temen2 ku yg udah lolos duluan.. apalagi pas mau buka pengumuman tadi aku gak ngambil wudhu dulu.. aahhh sedih bgt pokoknya…
Pas nyampe rumah, ditanyain sama ibuk… “gimana?Lolos?” aku jawab ga lolos bukk… semenjak hari itu, aku jadi pendiem, mau ngapa2in jadi males, kerjaanku Cuma dikamar aja, aku sempet nangis kok, ya wajar lah.. tapi cowok kok nangis, cowok juga manusia dong brew hahaa… makan juga ga enak bgt rasanya, hampir seminggu kalo makan mesti mau muntah.. duh ga enak bgt pokoknya gak lolos snmptn itu.. apalagi temenku ada yg lolos di UB, di UM, Unesa, UNAIR dll dah.. aku iri bgt sama mereka… ya iri lah.. masak aku lumayan pinter di kelas, sering juara kelas tapi itu gak menjamin, bener, sumpeeh… semua tergantung sama doa, usaha, dan keberuntungan jga.. iya beruntung, temenku ada yg selama 3 thn Cuma ranking belasan, eh dia lolos Teknik Komputer UB, gmna? Keren kan… haha lah aku gmana dong.. mungkin aku kurang doa, iya emang bener. Aku sempet flashback liat2 usahaku dan doaku dulu ternyata sangat kuraang, aku jarang berdoa utk kelolosan snmptn ku, aku terlalu sombong, terlalu pede gara2 punya bnyak piagam yg di sertain di snmptn, tpi itu ga menjamin.. camkan itu wahai adek2.. :D
Pendaftaran SBMPTNpun dibuka tanggal 29 mei-6 juni kalo ga salah sih.. ya aku daftar lagi.. ini pilihanku.
Teknik Elektro – UB
Peternakan – UB
Pend. Teknik Elektro – UM
Lah kok bukan Matematika lagi pilihannya, ga tau tuh, itu mah pilihan galau.. jujur ga sesuai minat sih.. nah selain sbmptn aku juga daftar tes UMPTAIN yaitu ujian utk masuk ke PTN Islam contoh UIN malang gitu dll… aku daftar tuh, bayarnya 100rb karna yg ini ga bisa pake bidikmisi.. jdi ngajuin bidikmisi kalo udah kuliah katanyee… pilihanku kayak gini nih guys..
Pend. Agama Islam – UIN Malang
Pend. Bahasa Arab – UIN Malang
Hoho.. kenapa pindah haluan ke PAI ya? Gatau ya, itu sih semua org setuju, semuanya nyaranin aku ke sana karena sesuai bakat dan kemampuan katanyaa… trus trus aku juga daftar SIMAK UI, nekat gak tuh, iya nekat.. nekatnya gara2 dulu aku udah galau bgt, gak mau mikir panjang, yg penting harus bisa kuliah.. egois bgt memang… nah aku dftar simak, ga bayar, karena bidikmisi di gratiskan… pilihannya kaya gini
Fisika – UI
Biologi – UI
Geografi – UI
Siip udah dapat nomer pesertanyee semua.. Guys, kalo kalian tau gmana perjuanganku dulu, beeh, dulu aku belajar gak kenal waktu, di benakku Cuma ada kuliah kuliah dan kuliah.. aku ingin berjuang dan berusaha diatas rata2 orang kebanyakan.. karena orang yang seperti itu akan menjadi orang yang berhasil… aku dapat banyak dukungan dari temen2, disemangati dan terus menghibur aku yang gundah waktu itu.. trus aku mulai sholat tahajud dan dhuha setiap malam sebelum tes – pasca tes – pengumuman.. itu terus aku lakuin… aku pengen bgt kuliah.. aku gak pengen kejadian gak lolos snmptn terulang kembali, aku bener2 trauma…
akhirnya sampai pada hari tes sbmptn tgl 17 juni 2014..  aku bermalam di kost nya temenku, malamnya aku pun gak bisa tidur sumpah sulit bgt meremnya.. aku dpt tes di Univ. Merdeka Malang tepatnya Fakultas Teknik, di Teknik Mesin.. pantes, aku pun ngantuk pada hari tes, duuuh, aku terus minum air putih, biar ngantuknya berkurang, biar oksigen banyak, hehe… tes nya Cuma sehari dan ada 2 sesi, yang pertama TKDU tes kemampuan dasar umum, yaitu, bhs Indonesia, bhs inggris, dan Matematika dasar. Yang kedua TKPA, tes kemampuan potensi akademik, yaitu, soal TPA, MTK IPA, Fisika, Kimia dan Biologi…
waktu TKDU, aku pede bgt lho ngerjainnya, hahaa MatDas aku lalap 11 nomor, Bhs Indonesia 12 nomor, Bhs inggris 3 nomor yee, hahaa iya aku akui memang lemah di bhs inggris, apalagi aku juga kehabisan waktu, jadi yg bhs inggris aku ngasal aja asal jawab dgn bismillaah karena waktu tes aku fokusin ke matdas.. yang TKPA, aduuh susah, aku kapok, kalo kalian tau, mending lolos aja di snmptn drpda ngerjain nih soal.. aduh aku mulai galau di tempat… nih soal apa sih, bisa dikerjain ga sih.. kalo yang TPA aku berhasil jawab 29 soal dari 45 soal yg tersedia.. aku buka lembar berikutnya, mtk ipa, jeng jeng.. duh susah padahal ini pelajaran kesukaanku, dduuhh dengan bismilahh aku Cuma berhasil ngejawab 5 soal aja, ku buka lembar lagi, fisika, aduh padahal bnyak loh soal yg sederhana, soal2 SMP juga ada.. tapi aku lupa, ya tetep aja dirasa rumit, pdhl sederhana bgt soalnya.. yaakk teman2 aku berhasil jawab 1 soal aja, hahaa… lalu kimia, sip dah, aku ga bisa sama sekali nih kimia, ya aku ngasal deh, jawab 3 soal hahaa. Lalu Biologi, ini harus rajin menghafal, akhirnya aku keluar dengan menjawab 5 soal walaupun ada juga yg ngasal.. hahaa…
alhamdulilaaah… tes pun sudah selesai.. aku hanya bisa pasrah sobat.. saatnya berdoa dan tawakkal alallah.. ya benar.. setelah tes itu, aku fokusin utk belajar UMPTAIN, aku adalah alumni MTS, ya ingatlah dikit2 materi Fikih, SKI, Bhs Arab, dll… yg aku gak bisa adalah tesnya IPS, jadi aku harus belajar mulai nol lagi… semangat semangat masih banyak jalan menuju roma. Disisa waktu yg Cuma seminggu ini aku fokuskan ke UMPTAIN yang akan dilaksanakn tanggal 25-26 Juni 2014.. padahal SIMAK UI sebelum itu, yaitu tanggal 22 Juni 2014.. tapi lebih fokusin ke UMPTAIN..
3 hari sebelum tes SIMAK UI, ternyata aku di undang oleh seseorang utk mengisi Qori’ di tanggal 22 itu.. adduuh padahal aku ada SIMAK, lalu gmna pilihanku, ya mantapkan hati utk memilih Qori’ saja.. yah bismillah semoga ini pilihan terbaik dan aku lepas UI, bye UI kau bukan jalanku mungkin… apalagi aku nggak dapat restu jauh2 ke UI.. ortuku lebih setuju di daerah Jawa timur saja… yaah aku turutin aja dong brew…
Hari tes UMPTAIN pun segera tiba, aku bersama 2 orang temenku cowok dan cewek.. tanggal 23 jam 8 pagi aku berangkat ke UIN malang… bismillah semoga diberi kelancaran amiiin.. bermodal soal2 umptain tahun2 lalu dan doa aku berangkat pada hari itu…. Jam 12 kami sampai, kami beristirahat di masjid tarbiyah UIN.. kami makan, yeah aku udah lapar sampe lupa cuci tangan.. habis makan, kami belajar bersama, menjelang sore aku dan temanku yg cowok(rohim) naik ke lantai 2 masjid utk istirahat dan ibadah, dan temenku yg cewek(midah) ke asrama putri… waktu itu aku bingung kok nekad bgt gak bawa jaket, pdhal kota Malang kn dingin bgt.. trus gejala yg lain mulai datang, aku tiba2 dilanda diare, berulang kali aku ke WC gara2 sakit perut, sakiit bgt gak seperti biasanya, mungkin gara2 tadi siang aku gak cucu tangan wktu mau makan, aku gak bisa tidur karena malam itu dingiiin bgt…. Lengkap sudah penderitaan ini, jam 12 malam aku bangunin temenku utk cari toko obat, aku beli entrostop dan promag, lalu aku minum dan aku lanjutin tidur, temenku yg baik hati bersedia meminjamkan jaketnya buatku akhirnya aku tidur walaupun agak gak nyaman…
Paginya, masyaallah, aku demam, kulitku panas semua, aku bingung, aku juga sedih, kepalaku tersa berat bgt, aku berjalan dgn sangat dipaksakan menuju ruang tes… kedua temanku tak hentinya memberi semangat buatku.. tes pun di mulai.. aku mengerjakan dgn merasakan kepala yg berat bgt, aduh gmna caranya untuk konsen mengerjakan kalo kondisi kayak gini, apalagi hari ini ada dua sesi, yaitu tes wawasan keislaman dan TPA. Pantas saja waktu mengerjakan aku gak sengaja netesin air mata, gak tau kok netes sendiri.. aku ingat ortu yang mendoakan di rumah, kenapa tubuhku lemah gini sih, batinku, masak gini aja udah sakit, ya Allah.. aku pun menangis tertahan waktu tes… sehabis tes aku pun pasrah.. panas ku semakin tinggi, lalu aku telfon sodaraku yg juga dimalang, aku bermalam di rumah sodara dan meninggalkan kedua temenku di uin dan mereka memaklumi kok guys, hehee aku tidur dr jam 8 malam- 5 pagi dan sholat subuh, wow itu kebo tidur atau manusia sih hahaa…
dan tes hari kedua itu tes kemampuan IPS, yah aku pasrah aja, dan demamku juga sudah sembuh hari itu, mungkin gara2 kebanyakan tidur yah, hahaa… aku pun mengerjakan tes hari terakhir itu dengan senyum, senyum gara2 gak bisa maksudnyeee hahahaa.. tes pun usai, aku pulang bersama kedua temenku, iya dong, berangkat brg pulang juga brg dong guys, ya nggaak? Nyampe rumah aku cium tangan ibuk, yah semoga usaha gak sia2, saatnya pasrah….
Seminggu kemudian, bulan puasa tiba… alhamdulilaaaah sholat tarawih lagi, sahur dan buka lagi… yeah… tapi kami kami yg belum lolos kuliah masih getir lho, setengah bulan berpuasa tidak tenang gara2 menunggu pengumuman hahaaa…..  tapi aku terus melakukan rutinitasku, sholat dhuha dan tahajjud setiap hari… bismilaaah….
Jreng jreeng.. pengumuman SBMPTN akan dilaksanakan tanggal 17 juli 2014 jam 5 sore sebelum buka puasa berarti. Maka sehari sebelum, aku gak bisa tenangg bgt, trus aku baca istighfar terus… dan akhirnyaaa hari pengumuman tiba, malah tambah gak tenaaang, aku mulai uring2an, takut, kuatir bercampur jadi satu, aku takut kejadian ga lolos snmptn terulang kembali… sorenya jam 1, 2, 3, 4 duh sejam lagi, trus aku baca istighfar, pasrah dengn hasil… aku mulai berpikir, kalo seandainya ga lolos aku mau jadi guru ngaji dulu setahun mengabdi pada kyai ku.. ya benar.. jam setengah 5 aku mondar mandir terus, duhh horror bgt hari itu.. sampai pada jam 5.. ortuku Tanya, gmna lolos? Aku jawab, belum dibuka pak, nanti saja…
Trus aku tunda, aku mikir, kalo aku cek jam 5 trus isinya merah, bakalan gak enak nih buka puasa, yaudah habis buka puasa aja aku cek pengumuman.. habis buka puasa, aku ragu, di buka ngga ya pengumumannya… ga jadi deh, habis tarawih aja, takut gak khusyuk sholat kalo semisal ga lolos. Tapi ada temenku cewek namanya dita yang ngeyel mau bukain hasilnya, yaudah dengan bismilaaah aku kasih no peserta dan tanggal lahir ke dia, aku pun kepikiran, di tunggu gak ya, gak deh, aku lgsg berangkat tarawih, itupun juga kepikiran, temenku pasti udah tau duluan hasilnya batinku.. trus habis tarawih, aku gak mau pulang, pasti di handphone udh bnyak yang nanyain gmna hasil, temen2ku pasti kepo semua.. makanya aku tadarus dulu, mungkin bisa tenang… sampaai jam 10 malam aku pun belum tau gmna hasil tes ku, lolos atau tidak.. sumpah brew aku takut.. hahaaa…. Lalu aku beranikan diri deh utk pulang dr masjid, pasrah sepenuhnya karena Allah tau yang terbaik.. nyampe rumah, udah 8 pesan masuk dan 3 panggilan tak terjawab.. aku buka pesan, aduuh aku lemes, lemeess bgt.. ada pesan dari temenku dita ternyata aku lolos di Peternakan UB..sumpah deh, aku seneng bgt.. akhirnya aku lolos.. lalu aku beranjak ke warnet bersama bapak untuk cek lgsg pengumuman.. dan ternyata benar, aku lolos di peternakan UB, dengan bidikmisi juga… alhamdulillaaah… Allah akan ngasih kalu kita mau berusah.. Layukallifullaha nafsan Illa Wus’aha.. alhamdulilaaah… tak hentinya aku bersyukur, di warnet, bapakku juga tersenyum menyaksikan hasil tes ku..
Hari2 selanjutnya aku jadi lebih ceria, semangat ku penuh kembali, lalu bagaimana dengan hasil UMPTAIN ku? Waktu buka pengumuman, aku sih biasa aja karena semisal gak lolos aku sudah ada UB.. dan ternyataaa jreng jreeeng…. Maaf Anda Tidak Lolos.. kaget sih, tapi aku syukuri sajalah dengan pemberian Allah, mungkin jalanku memang di Peternakan UB..
Alhamdulilaaah.. Allahu akbar…..
Jadi, buat adek2 yang mau daftar SNMPTN maupun SBMPTN dll… pilihlah jurusan yang sesuai minat dan kemampuan di pilihan pertama, lalu pilih jurusan yang adek yakin bisa masuk di jurusan itu di Pilihan kedua tapi sesuai kemampuan juga. Oke, jangan gengsi.. dan yakin kalian pasti bisa dan sukses, asal mau berusaha dan berdoa.. semangat dan yakin bisa ! Allah ma’ana..

Senin, 21 April 2014

CERPEN KARANGANKU "NASIHAT UBI HAYA"


“NASIHAT UBI HAYA”





background-5.jpg
















Probolinggo, Juni 2011…
            Lega rasanya setelah tiga tahun bergelut dengan seragam putih biru, akhirnya lulus juga. Dan kini aku telah dewasa. Entahlah, saat ini kepercayaan diriku menggelegak seakan beban berat yang selama ini aku bopong seorang diri telah aku buang ke suatu tempat nun jauh di sana, mengira takkan pernah kembali. Aku pejamkan kedua mata ini lalu sesekali mengerjapkannya, membiarkan wajah lonjongku diterpa angin kering yang sering aku jumpai di madrasah yang sebentar lagi menjadi “mantan madrasahku”.
            Alhamdulillah.. NEM 35.15 ini cukup memuaskan hati. Pohon mangga besar usia dua puluh tahunan di seberang gedung bak ikut menyambut kelulusanku. Dahan dan rantingnya bergoyang-goyang mengiringi hampir seluruh anak yang lulus hari ini. Anak-anak dan orang tua berseliweran di lantai bawah dan halaman sekolah. Sikap mereka menyambut kelulusan sungguh kontras sekali. Ada yang nangis-nangis, jongkok, ketawa, bahkan masih sempat saja ada orang tua memarahi anaknya karena gagal mencapai nilai yang diinginkan mereka. Tapi, aku juga bersedih karena sebentar lagi kebersamaan dengan para sahabat akan pupus. Ah, masih sekota kok. Pikirku dalam hati.
            Cong, Bapak bangga dengan nilaimu,ujar Bapak. “Tapi SPP-mu belum bapak lunasin, sabar ya?”
            Aku memang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ke madrasah ini saja Bapak pinjam motor tetangga. Tapi dukungan keluarga sangat luar biasa. Dukungan inilah yang aku ingat-ingat ketika semangatku mulai redup.
            Iseng saja aku baca banner di ruang aula yang bertuliskan Selamat dan sukses kepada siswa-siswi MTsN Kota Probolinggo atas kelulusan yang telah diraih. Padahal aku hampir lupa berapa kali pernah membacanya tadi pagi. Kami beranjak dari tempat kami berdiri di pagar teras lantai dua. Bapak masih saja tersenyum lebar sepanjang perjalanan menuju bawah. Entah apa yang ada di benaknya, aku tak tahu.
            Di bawah, aku bertemu Bu Eva. Guru Biologi sekaligus wali kelas kesayanganku. Entah kejadian apa yang membuatku begitu dekat dengan guru ini dari dulu. Padahal aku terbilang biasa-biasa saja di kelas, pintar Biologi saja tidak. Tanpa perintah, aku seret langkahku menuju beliau. Di tangannya saputangan bordiran terlihat basah. Jelas beliau telah menangis hebat.
           
“Nak,” begitu beliau memanggil. “Semoga sukses, buat guru-gurumu bangga pernah memiliki kalian. Kalau sudah sukses, tirulah ilmu padi semakin berisi semakin merunduk. Tetap rendah hati ya Nak,suaranya terisak. Butir-butir air mata yang sebelumnya menggenang tak kuasa menjatuhkan dirinya, mengalir melintasi pipinya yang lembut. Saputangan itu kembali beliau usap ke kelopak matanya yang indah.
            “Iya Bu, kami berjanji akan berusaha memaksimalkan usaha untuk meraih cita-cita. Doa dan restu selalu kami harapkan dari Bu Eva dan guru-guru untuk mengiringi langkah kami menuju kesuksesan,aku mencium tangan beliau dengan penuh khidmat. Ah, guru ini seperti ibu keduaku saja. Kemudian aku pamit pulang. Siang itu tepat pukul 11 WIB pada hari Sabtu, aku telah menuntaskan kewajibanku sebagai siswa Madrasah Tsanawiyah. Sejenak aku biarkan mataku menikmati suasana madrasah yang tak lama lagi aku tinggalkan ini.
            Aku tersenyum sendiri melihat musholla Miftahul Jannah di pojok barat. Seakan memutar Video Player, ingatanku berkelebat mengingat setiap kenangan yang ku lalui dengan para sahabat di tempat damai itu. Di depannya dua pohon kelapa sawit yang menjulang tinggi bagai prajurit istana yang setia melindungi penduduk yang mendiami istana. Aku juga ingat bagaimana kala hujan turun kami bermain perosot-perosot-an di teras musholla itu. Sambil menikmati gorengan yang  kami beli siangnya di kantin Bu Met. Ruang kelas yang berdiri kokoh jasa semen Holcim seakan kaku ditinggal para penghuninya yang telah tiga tahun bersama. Perasaanku campur aduk antara sedih dan senang. Aku pulang.
***
Seminggu kemudian adalah hari yang aku nanti-nanti. Benar, hari pendaftaran sekaligus tes masuk SMA telah tiba. Aku menimbang-nimbang, kemana sekolah yang aku tuju sebentar lagi. Aku pasang sepatuku lalu aku hentakkan ke bumi seperti kuda-kuda mau perang. Seragam oke, parfum juga oke, lalu apalagi? Batinku bicara. Aku turut masukkan ijazah dan fotocopynya yang telah terlegalisasi ke dalam tas. Aku lega akhirnya bapak bisa melunas SPP yang belum sempat terbayar tempo hari. Jadi aku bisa memiliki ijazahku dengan hak penuh.
            Berhubung hari ini ada tes, jadi aku pelajari lagi materi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Asing (Inggris) dan IPA semalam. Walaupun aku hampir lupa bagaimana rumus perubahan kalor dan tak ingat lagi pemuaian, tapi aku paksa saja belajar. Mungkin inilah yang namanya “SKS”. Sistem Kebut Semalam. Sementara sistem inilah yang aku anggap paling-mujarab dan ampuh menjawab soal. Paling tidak aku sudah dicekoki materi ini selama tiga tahun. Jadi aku hanya perlu membaca ulang materi-materi yang pernah aku pelajari dulu.
            Cong,bapakmu sudah nunggu di luar. Buruan gih, takut telat.” Ini suara Ibuku yang menurutku mengalun seperti lagu penenteram jiwa.
“Dari tadi bapakmu nanya, kamu mau sekolah ke mana. Bapak juga minta cari sekolah jangan yang mahal-mahal,ujar Ibu.
“Nanti Ibu pasti mengerti bagaimana sikon sekolah yang Misbah pilih.”
            Duh, hatiku ciut mendengar ungkapan Ibu yang terakhir itu. Jangan-jangan impianku ke SMAN 4 gagal total. Aku kalut sendiri di kamarku yang kelihatannya semakin sempit ini. Lampu gantung kamarku kaku, dadaku berdegup.
            Aku seret langkah kakiku ke halaman rumah dengan dada penuh sesak kemudian menghampiri Bapak. “Aku ikut tes di Smapa saja, Pak.” Smapa adalah panggilan akrab untuk sekolah impian ini. “Dan tenang Pak, sekolah ini jauh dari kalimat mahal.” Kataku mencoba meyakinkan dengan menekan setiap ejaan yang keluar dari kata “Mahal”.
            “Cari sekolah jangan mahal-mahal lah Nak, yang penting ya sekolah. Anak teman bapak sekolah di swasta saja bisa jadi ajudan bupati.” Terang bapak panjang lebar. Aku pun tahu ini ungkapan Bapak secara halus agar aku mendaftar di sekolah murah. Yang jelas, saat ini aku masih kesal entah kepada siapa. Dadaku yang sesak belum sepenuhnya pulih. Setelah mendengar ungkapan kedua orang tua yang tak sesuai harapan anaknya.
            Aku turun di gerbang Smapa, lalu aku raih tangan Bapak meminta doa restu semoga tes hari ini lancar. Kemudian Bapak beringsut pulang. Kini berdirilah sebuah bangunan di hadapanku, sekolah yang aku impi-impikan bersama sahabatku dulu ketika masih masa putih biru. Beranekaragam tumbuhan yang rimbun menyambut setiap orang yang datang ke sekolah ini. Hatiku berdesir menyaksikan para calon siswa dari berbagai kalangan lalu lalang di hadapanku. Ternyata ramai sekali. Jelas sekolah ini menjadi sasaran utama para ‘Pencasek’. Pencari Sekolah.
            Mereka beragam. Ada yang berambut botak dan pirang. Ada yang berbehel gigi. Berkacamata dengan gagang putih. Ada pula warga keturunan Tionghoa. Sebangsa orang gemuk tak luput, setengah laki-laki dan setengah perempuan tak ketinggalan. Tapi hanya satu topik pembicaraan mereka, NEM yang telah diraih masing-masing. Sungguh kentara sekali kalau anak-anak lulusan sekolah elit sedang pamer karena mendapat nilai yang hampir sempurna.
            Aku baru tahu ternyata seperti inilah Smapa. Di dalam ada sebuah kolam dengan dua ekor patung lumba-lumba besar bersanding. Air mancur terjun dari kedua mulut patung mungil ini dan jatuh ke kolam berwarna hijau lumut yang menimbulkan cipratan pada orang-orang yang berada sekitar kolam. Di tengah halaman yang sempit namun nyaman, ada sebuah taman kecil yang bermuara dari samping kolam sampai ujung utara. Persis seperti taman yang banyak aku jumpai sepanjang jalan raya. Jelasnya seperti batas lajur kanan dan kiri.
            Loket pendaftaran tes tulis ada di depan lab Biologi. Jadi teringat Bu Eva. Batinku. Aku grogi. Berkali-kali aku longgarkan sedikit ikat pinggang yang sebenarnya tak apa-apa. Beruntung tumbuhan yang rimbun hampir di setiap sudut berhasil membuatku lebih rileks. Segera kudaftarkan diriku setelah berhasil menerobos antrean yang mengular.
***
            Yeah, nilai tesku cukup memuaskan setelah kemarin bertempur dengan 100 soal beranekaragam. Score 64. Aku yakin sekali Smapa pasti mencari siswa yang sepertiku. Aku layak di sekolah ini. Persis di depan lab Biologi aku duduk membaca berulang-ulang hasil tesku. Kertas kecil berukuran lebih besar dari KTP ini membuatku senang bukan kepalang. Hari ini mengingatkanku pada hari kelulusan. Ramai. Ekspresi muka yang variatif dan masih banyak lagi. Semua orang sedang antusias.
            “Nilaimu lumayan bagus dek,” kata seorang penjaga loket berambut licin kepadaku seraya menggumamkan namaku di mulutnya.
            “Ya, Alhamdulillah pak,” jawabku.
            Sambil merapikan berkas-berkas penting dia berkata, “rencana mau daftar kemana dek?”
            “Saya belum tau. Kalo dari hati saya sendiri ya pengen sekolah di sini, Pak.”
            “Kalo sudah mantap, buat apa ragu? Nilaimu itu sudah tahap merdeka lho.. sekolah manapun yang kamu pilih, yakin.. tembus.. pasti itu..”
            Sambil mengaminkan aku bilang, “hehe.. trimakasih Pak, masih menunggu keputusan orang tua...”
            Hatiku mencelos. Aku ingat ucapan Ibu kemarin. Keputusan orang tua yang tidak sesuai harapan anaknya. Pikiranku kembali sibuk tentang sekolah kemana aku ini. Padahal hatiku sudah jodoh walaupun hanya dua hari pulang pergi ke sekolah ini.
           
Sejenak aku mencoba menata akalku. Lebih baik aku huznudzan saja. Aku akan bilang baik-baik kepada Bapak bahwa aku sudah jelas akan ketrima jika daftar di sekolah impianku ini. Aku akan berusaha meyakinkan kedua orang tuaku, kemudian akan aku pasrahkan semua kepada Allah atas apa yang akan menjadi takdirku nanti. Iya, pasrah.
            Di depan gerbang Bapak sudah menunggu. Motor pinjaman lagi. Selama perjalanan aku memilih dan memilah kata mana yang tepat aku ajukan nanti pada kedua orang tuaku, agar mereka yakin dan setuju atas sekolah yang aku pilih.
            Begitu Bapak mendengar penjelasanku yang panjang lebar mengenai sekolah pilihanku ini, raut mukanya tampak kebingungan. Aku duduk. Aku sudah tahu apa yang mungkin terjadi. Setelah beberapa saat diam, Bapak menanggapi pidatoku.
            “Nak, kamu mengerti sendiri kan Bapakmu ini tidak kerja. Sudahlah Nak, kita cari sekolah yang lebih murah saja.”
            Ibu yang sedari tadi berdiri kemudian duduk di sebelahku. Aneh sekali rasanya duduk di- ruangan ini dalam keheningan. Detik jarum jam terdengar menjadi lebih keras dari biasanya.
            “Sekolah dimana saja tanpa ada semangat dan kemauan, percuma Nak.”
            Sejenak hening. Kemudian  Bapak melanjutkan, “Cong, besok Bapak bawa kamu ke SMAN 3. Itu mantan sekolah Cak Lam. Di sana tidak kalah bagus sama sekolah lain.”
            Benar-benar detik yang menentukan. Aku terjebak di tengah rapat keluarga yang menentukan nasibku. SMAN 3 Probolinggo. Mungkin panggilan akrabnya Smaga. Sekolah apa ini? Aku sama sekali tak tahu dimana letak sekolah ini. Mungkinkah plosok, terpencil, aku tak tahu. Otak tak logisku berpikir bahwa sekolah ini pasti jelek dan buangan. Tapi otak logisku berkata, sekolah ini sama saja dan tak ada bedanya. Sama-sama sekolah menengah.
            Tapi aku benar-benar tidak terima seandainya permintaanku atas sekolah pilihanku ditolak oleh Bapak. Tak adakah sedikit rasa iba di hati Bapak kepadaku. Batinku perang. Dan benar saja bahwa inilah nasibku.
            “Besok Bapak antar, Cong. Tempatnya di Wonoasih. Semangat terus, cetak prestasi dan buatlah kami bangga,” terang Bapak mantap. Inilah takdirku yang tak bisa aku tolak. Smapa yang sebelumnya menari-nari ria di atas kepalaku sekarang telah sirna. Pergi tanpa perintah mengusir karena orang tuaku sendiri yang mengusirnya.
           
Malamnya, aku susah memicingkan mata walau rasanya mata sudah perih. Sempat terlelap lalu terjaga lagi. Begitu terus sampai menjelang Subuh. Pikiranku melayang-layang tak tentu. Bagaimana kondisi calon sekolahku nanti. Aku takut tak bisa mengembangkan prestasi. Barulah setelah Subuh, hatiku berangsur tenang dan akhirnya aku bisa tertidur pulas walau hanya 2 jam.
            Aku sedang berjalan sepanjang jalan berbatu di tengah panas hari yang tak terlalu terik namun menghauskan. Kulihat banyak orang berseragam putih abu-abu dengan badge Smapa. Selama beberapa detik aku tak menyangka dengan apa yang kulihat. Ada pusaran angin di segala penjuru yang membuat pohon-pohon besar bergoyang mengerikan. Daun-daun beterbangan. “bencana alam.. bencana alam..” teriakan yang memekakkan telinga itu menghantam dadaku. Berkali-kali aku berteriak minta tolong namun sia-sia. Aku butuh jawaban dari teriakanku, jawaban untuk persoalanku sendiri...
            “Bangun, Nak.” Ibu mengguncang bahuku. Tubuhnya bau cucian. Bau ibu-ibu sejati.
            Aku terjaga dengan kondisi masih mengantuk hebat. Satu hal yang pasti, semalam aku Insomnia-yang tak diharpakan-sampai jelang Subuh. Pagi ini mendung. Hari ini aku akan memenuhi permintaan kedua orang tuaku walau terpaksa. Pasti dan tidak akan berubah. Dan benar saja di luar sedang turun hujan. Hujan yang aneh di bulan Juni. Aku teringat mimpiku tadi Subuh yang akupun sendiri tak mengerti apa maksudnya.
            Nenek seringkali bilang kalau mimpi yang jelek itu sebenarnya punya arti baik dengan kondisi kita saat ini. Begitu juga sebaliknya. Kalau mimpinya keenakan, pasti keesokan harinya ada saja hal yang kurang bejo nantinya. Tapi aku sedikit tidak percaya dengan teori yang sudah Parokial ini. Sepertinya sudah primitiv dan ketinggalan zaman.
            Setelah rampung dengan urusan sarapan, mandi dan sebagainya, aku pamit kepada Ibu dan mencium tangannya yang mulai keriput. Memohon doa restu semoga semua lancar.
            Aku sampai di depan gerbang Smaga disertai derak kerikil yang terdengar ketika motor pinjaman Bapak melewati jalan kasar berbatu di sekitar gerbang. Bapak juga turut mendampingiku. Aku ingin sekali menyalahkan keadaan. Sekolah ini gersang, kotor dan aku malas memikirkan sekolah ini terlalu jauh. Halamannya tidak sebersih Smapa. Tidak ada lumba-lumba di tengah kolamnya. Tanaman-tanamannya renggang bahkan ada ranting yang tumbang. Sangat becek apalagi habis hujan.
            Mulutku tak hentinya membuang napas kekesalan yang dilebih-lebihkan. Semoga ada titik terang di sekolah ini, bukan hanya setitik tapi ribuan. Dan harus, dan itu perlu. Sekarang aku hanya perlu menyerahkan berkas-berkas nilai tesku dan mengisi formulir di loket pendaftaran. Jam dinding di sebuah ruangan seperti ruang guru menunjukkan jam 8 pagi. Bapak tidak bicara sepatah pun.
            Aku sedikit berbesar hati ketika aku serahkan piagam penghargaan tingkat provinsiku kepada guru yang kuketahui namanya Bu Amanah ini. Aku melihat beliau geleng-geleng dan tersenyum sambil membawa masuk piagamku. Loket itu dijaga oleh dua orang. Laki-laki paruh baya bertubuh besar berdada bidang dengan rambut yang beruban. Umurnya sekitar lima puluh tahunan. Di dadanya tertera nama Basoeki Widodo. Suaranya berat dan menggema. Satu lagi seorang wanita berumur kira-kira tak lebih empat puluh tahun, bertubuh pendek dengan kerudung merah hati yang bermanik-manik di tepinya. Di sampingnya ada sebuah buku tebal berjudul:“International Biology Olimpyad dan Solusinya”. Pertama kali aku melihatnya, beliau terkesan judes. Tapi belakangan aku tahu bahwa guru ini rajin penuh wibawa dan murah senyum. Kami akrab memanggil beliau Bu Suci.
            Setelah sampai di rumah, aku masih belum percaya dengan keputusan ini. Berkali-kali aku mengorek setiap kemungkinan yang mungkin terjadi. Bagaimana gurunya, kelasnya, pikiranku kacau sampai tiba hari pertamaku di Smaga. Masa Orientasi Siswa yang berlangsung menyenangkan dan aku masuk di kelas 10C. Dua bulan-bahkan lima bulan-pertama, aku belum betah sama sekali di sekolah ini.
            Pernah suatu saat waktu pelajaran Kimia, aku ditegur oleh guru Kimia yang terkenal disiplin ini. Sungguh tak dapat kupercaya bahwa keberadaanku yang masih seumur jagung di Smaga telah berurusan dengan guru yang paling disiplin. Kejadiannya seperti ini:
            “Assalamu’alaikum...” salam guru itu dengan suara yang agak dimanis-maniskan dan diikuti oleh koor jawaban salam serempak oleh seluruh penghuni kelas. Sepatunya berbunyi tok tok sepanjang perjalanannya yang pongah menuju meja guru. Benar saja kelas menjadi sunyi atas kedatangan guru ini. Dia mulai mencetak besar-besar namanya di papan tulis putih. “EKO ANDIYANI SIHDEKAEKSI”. Teman-temanku mulai menggumamkan namanya.
            “Eko Andiyani Sihdekaeksi,” ulangnya. “Saya biasa dipanggil Bu Yeni. Nama saya rumit namun itulah pemberian orang tua saya. Andiyani, Andi bapak saya dan Yani ibu saya. Bisakah anda tebak anak keberapakah Bu Yeni?” semua kalimat itu diucapkannya dengan sangat cepat dan bibirnya menjadi tipis sekali. Kemudian seluruh kelas bersahutan menjawab “satu bu...” dan ironis sekali denganku yang menjawab “sepuluh bu...”. Aku kaget. Rasanya seperti ada benda sebesar batubata yang menghantam perutku.
            “Benar sekali.. anak-anak, Bu yeni adalah.. anak pertama,” manis sekali yang diucapkannya.
“Sepertinya ada yang bilang sepuluh..” dia pura-pura mencari ke seluruh kelas. Kemudian seraya menunjukku dengan spidol merahnya dia melanjutkan, “kalau boleh tahu kenapa mas..?”
“Misbah Husolli,” sambungku. Aku merasakan bahwa tiga puluh dua pasang mata sedang melihat ke arahku. Aku menyeka keringat yang mulai mengucur di dahiku dengan punggung tanganku.
“Iya.. kenapa Mas Misbah bilang sepuluh?”
“Eh.. saya kira dari.. nama Sihdekaeksi itu.. mengandung angka sepuluh dari.. kata Deka bu..” jawabku gugup. Posisi dudukku menjadi tidak senyaman tadi.
Kemudian dia tertawa seperti anak kecil seraya berkata, “kok nggak masuk akal sekali, Misbah di sini ranking berapa?”
“Tiga bu,” jawabku tegas dan mantap balas memandangnya. Sekilas ada nada sombong yang menjalar keluar waktu aku mengucapkannya. Tapi kemudian rasa gugup kembali memenuhi tenggorokanku.
“Tiga?” sindirnya. Ada rasa tak percaya yang tersirat di wajahnya. “Begini ya, Bu yeni kira pikiranmu ini, masih primitiv sekali..” sambil tersenyum manis kepadaku kemudian dia melanjutkan bincang-bincangnya dengan penghuni kelas yang sungguh membosankan.
Aku dibilang primitiv oleh guru yang angkuh itu. Bibirnya menjadi super tipis tiap kali menegur anak didiknya. Apalagi ditambah dengan lipstik merahnya yang berwarna cabe.
Semenjak kejadian itu, aku menaruh dendam padanya. Setiap kali pelajarannya berlangsung, aku selalu berusaha bersikap sok smart dan rajin yang dilebih-lebihkan agar kelihatannya aku bukan orang primitiv. Sebetulnya aku memang bukan orang primitiv. Dan akhirnya, aku berhasil membuat guru itu percaya bahwa anggapannya tentang diriku adalah salah besar.
Sekarang mau tak mau, aku resmi menjadi siswa Smaga. Capat sekali rasanya melihat perubahan celanaku menjadi abu-abu, secepat Roller Coaster. “Tiga tahun itu cepat sekali kok,ibuku bilang sih begitu,” kata teman sebangkuku di lain kesempatan. Aku seringkali iri hati dengan sahabatku yang bersekolah di Smapa. Bagaimana ekspresinya yang berapi-api ketika menceritakan kegiatan di sekolahnya yang menurut mereka seru. Rahangku sering berkedut-kedut. Aku curiga jangan-jangan mereka bohong padaku.
Tepat pada pukul tujuh pagi dengan matahari yang setinggi penggalah, pelajaran pertama pun dimulai. Matematika, pelajaran favoritku tentu. Rasanya baru kemarin seperti halnya saat ini, aku duduk terdiam dalam kelas bersih yang nyaman. Waktu celanaku masih biru. Mendengarkan celoteh manfaat dan segudang ilmu dari guru-guruku yang berjasa. Ah, mataku berair tiap kali mengingat setiap kenangan-kenangan indah itu. Bu Eva apa kabar ya?
Aku benar-benar yakin bahwa inilah takdir yang dipilih Tuhan kepadaku. Menurutku ini bukanlah kesulitan, ini berkah. Karena jika satu pintu tertutup, maka sejatinya tersedia berjuta pintu yang akan terbuka untukku. Dan tentu saja, aku harus selalu berusaha keras mengingat kata-kata pepatah ini.
Tanganku otomatis menggenggam balpoin, siap menulis. Namun walaupun telah mengalami segala kejadian yang aku alami, walaupun aku tahu ini bukan pilihanku, entah sebulan lagi, setahun lagi, atau sekian tahun lagi, aku merasa semangatku bangkit memikirkan bahwa masih ada satu tugas dalam tiga tahun yang menyenangkan penuh kedamaian yang bisa dinikmati bersama Smaga.


SELESAI










UNSUR INTRINSIK
1.      Tema
Menduga-duga sesuatu hal yang kurang beruntung di masa depan belum tentu benar adanya, karena masa depan seseorang tidak pernah ada yang tahu.
2.      Amanat
·         Janganlah mudah menduga hal buruk karena dugaan itu belum tentu terjadi.
·         Pikirkanlah matang-matang terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu itu sial.
3.      Sudut pandang : orang pertama, pelaku utama
4.      Penokohan
A.    Tokoh utama         : Aku
Tokoh sampingan : Bapak, Ibu, Bu Eva, Bu yeni
B.     Tokoh Antagonis : Aku
Tokoh Protagonis : Bapak, Bu eva, Bu yeni
Tokoh Tritagonis   : Ibu
C.     Karakter tokoh
·         Aku           : keras kepala, pemikir dan selalu berprasangka buruk
·         Bapak        : ramah, penyabar dan murah senyum
·         Ibu             : sabar dan penyayang
·         Bu Eva      : penyayang dan mudah terharu
·         Bu Yeni     : tegas dan displin
5.      Latar (tempat, waktu, suasana)
·         Di sekolah, siang hari, senang
·         Di rumah, siang hari, bingung dan kuatir
·         Di kamar, pagi hari, kuatir
6.      Alur
·         Pengumuman kelulusan saat MTsN yang membuat Bapak bangga karena nilai yang memuaskan
·         Terlintas berbagai kenangan bersama sahabat ketika Aku menatap sejenak musholla di ujung barat
·         Aku grogi ketika akan melaksanakan tes di Smapa
·         Aku terjebak dalam rapat keluarga yang menetukan nasibku
·         Aku insomnia dan mimpi buruk yang tidak jelas
·         Keterpaksaan Aku saat mendaftar Smaga
·         Teguran dari guru Kimia
·         Aku menerima kenyataan atas takdir yang menentukan aku bersekolah di Smaga
 

Blogger news

Blogroll

About